Transformasi dan Perannya dalam Keguyuban Masyarakat Kesenian Bregodo di Yogyakarta
DOI:
https://doi.org/10.64924/kp2jg613Kata Kunci:
Transformasi Budaya, Kesenian Bregodo, Pelestarian Budaya, Paguyuban MasyarakatAbstrak
Indonesia dikenal memiliki keragaman budaya yang diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya dan menjadi bagian penting dari identitas masyarakat di setiap daerah sementara perkembangan globalisasi dan modernisasi menghadirkan perubahan yang mendorong perlunya berbagai upaya agar budaya tradisional tetap mampu bertahan serta diterima oleh masyarakat masa kini. Salah satu bentuk perubahan tersebut tampak pada kesenian Bregodo Kyai Pancas di Padukuhan Kleben–Mancasan Desa Pandowoharjo Kabupaten Sleman yang mengalami penyesuaian tanpa meninggalkan nilai budaya yang melekat. Kajian ini bertujuan menganalisis proses transformasi kesenian Bregodo Kyai Pancas sekaligus mengkaji perannya dalam memperkuat paguyuban masyarakat di Yogyakarta. Pendekatan kualitatif deskriptif digunakan melalui observasi wawancara mendalam dan dokumentasi sedangkan pemilihan informan dilakukan menggunakan teknik purposive sampling dengan melibatkan tiga narasumber yang terdiri atas pengurus Bregodo Kyai Pancas ketua SBMK yang juga merupakan anggota aktif bregodo serta Kepala Dukuh Padukuhan Kleben–Mancasan sebagai tokoh masyarakat. Hasil penelitian memperlihatkan bahwa Bregodo Kyai Pancas telah mengalami perubahan fungsi dari lambang keprajuritan menjadi media pelestarian budaya pembentukan karakter dan penguatan identitas lokal sementara keberadaannya juga mampu mempererat hubungan sosial melalui latihan bersama kirab budaya dan ziarah makam leluhur yang memperkuat rasa kebersamaan di tengah masyarakat. Nilai kedisiplinan gotong royong solidaritas serta religiusitas tetap menjadi makna utama yang dipertahankan dalam setiap aktivitas kesenian tersebut meskipun proses regenerasi anggota masih menghadapi kendala akibat tingginya mobilitas penduduk dan pengaruh modernisasi. Dukungan masyarakat serta keterlibatan generasi muda memberikan peluang bagi keberlanjutan kesenian ini sehingga transformasi yang terjadi tidak menghilangkan nilai tradisional melainkan memperluas fungsi budaya sebagai sarana menjaga warisan lokal sekaligus memperkokoh paguyuban dan solidaritas masyarakat di Yogyakarta.
Referensi
Azizah, L. H., & Ilyas. (2023). Partisipasi Masyarakat dalam Pengembangan Desa Wisata Berbasis Digital di Desa Tingkir Lor. Aksara: Jurnal Ilmu Pendidikan Nonformal, 9(3), 1681-1696.
Dikarsa, A.A., Monica, T., Destiana, R., Yulianti, S., & Rosi, S. (2025). Keraton Yogyakarta sebagai Pusat Pendidikan dan Pelestarian Seni Tradisional. Citizen: Jurnal Ilmiah Multidisplin Indonesia, 5(4), 1237-1240.
Geertz, C. (1983). Abangan, Santri, Priyayi, dalam Masyarakat Jawa. Pustaka Jaya
Hanifah, S. (2019). Studi Simbol Identitas Visual Bregada Prajurit Keraton Yogyakarta (Skripsi Sarjana). Institut Seni Indonesia Yogyakarta.
Isnugroho, E., Winarno, S. B., & Panghastuti, T. (2025). Bregada dari Simbol Keraton ke Warisan Budaya Komunitas. Journal Tourism & Community Service (JTCS) Vol. 2 No. 1 Jul 2025 35-39.
Koentjaraningrat. (2015). Pengantar Ilmu Antropologi (Edisi revisi). Rineka Cipta.
Lickona, T. (1991). Educating for character: How our schools can teach respect and responsibility. Bantam Books.
Miles, M. b., Huberman, A. M., & Saldana, J. (2014). Qualitativr data analysis: A methods sourcebook (3rd ed). Sage Publications.
Sedyawati, E. (2014). Kebudayaan di Nusantara. Komunitas Bambu
Sugiyono. (2022). Metode Penelitian Kulaitatif. Alfabeta
Sunaryo, T. B., & Masjhoer, J. M. (2023). The function shifting on Keraton Surakarta Bregada as representation of Culture commodification for tourism. Jurnal Masyarakat dan Budaya,25(1), 51-65. https://doi.org/1.55981/jmb.2023.1639.
Undang-Undang Republik Indoneisa Nomor 5 Tahun 2017 tetang Pemajuan Kebudayaan. (2017). Jakarta: Pemerintah Republik Indonesia.
Woodward, M. r. (2011). Java, Indonesia, an Islam. Singapore. Springer
Zuriatina, I. (2020). Pengaruh Pembangunan Kebudayaan Terhadap Pembangunan Manusia di Indonesia. TEMALI: Jurnal Pembangunan Sosial, 3(1), 1-17. https://doi.org/10.15575/jt.v3i1.6364.
Unduhan
Diterbitkan
Terbitan
Bagian
Lisensi
Hak Cipta (c) 2026 COMTE: Journal of Sociology Research and Education

Artikel ini berlisensiCreative Commons Attribution-NonCommercial-ShareAlike 4.0 International License.





