AGRARISCHE WET 1870: Amandemen Menjadi Undang-Undang Pokok Agraria Nomor 5 Tahun 1960

Penulis

  • Jeheskiel Gabriel Monding Universitas Negeri Manado Penulis
  • Almen S. Ramaino Universitas Negeri Manado Penulis
  • Aldegonda E. Pelealu Universitas Negeri Manado Penulis

DOI:

https://doi.org/10.64924/8qsgwe28

Kata Kunci:

Agrarische Wet 1870, UUPA 1960, Perkebunan

Abstrak

Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan  faktor-faktor apa yang menyebabkan sehingga diberlakukan peraturan Agrarische Wet 1870 terhadap perkebunan di Jawa, mendeskripsikan mengapa pemerintah menggantikan Agrarische Wet  1870 ke arah Undang-Undang Pokok Agraria Tahun 1960 dan menggambarkan dampak apa yang terjadi dengan diberlakukannya Agrarische Wet 1870 dan Undang-Undang Pokok Agraria Tahun 1960 terhadap perkebunan masyarakat Jawa. Metode penelitian yang digunakan adalah metode sejarah menurut Marc Bloch. Hasil penelitian Kegagalan Sistem Kolonial: Pelaksanaan Agrarische Wet 1870 di Jawa merupakan instrumen kapitalisme liberal yang secara sistematis memarginalkan rakyat pribumi. Melalui asas Domein verklaring, negara kolonial melakukan "perampasan legal" terhadap tanah-tanah adat yang tidak bersertifikat untuk disewakan kepada korporasi swasta asing (hak Erfpacht). Hal ini mengubah struktur sosial pedesaan di Jawa, di mana petani yang dulunya mandiri berubah menjadi buruh upahan di atas tanah leluhurnya sendiri (proletarisasi). Urgensi Dekolonisasi Hukum: Transisi dari hukum kolonial ke hukum nasional merupakan sebuah keharusan sejarah. Hukum agraria peninggalan Belanda yang bersifat eksploitatif dan diskriminatif tidak lagi relevan dengan jiwa kemerdekaan bangsa Indonesia. Munculnya UUPA 1960 berfungsi sebagai "Amandemen" fundamental yang menghapus dualisme hukum (Hukum Barat vs Hukum Adat) dan menciptakan unifikasi hukum agraria yang berlandaskan pada Pancasila serta Pasal 33 ayat (3) UUD 1945. Transformasi Kedaulatan Rakyat: Dampak paling signifikan dari pemberlakuan UUPA 1960 adalah pemulihan kedaulatan petani atas tanah di Jawa. Penghapusan asas Domeinverklaring memastikan bahwa rakyat bukan lagi "penumpang" di tanah negara, melainkan pemilik sah yang dilindungi oleh kepastian hukum melalui pendaftaran tanah.

Referensi

Achdian, Andi. (2008). Tanah Bagi yang Tak Beirtanah: Landreiform Pada Masa Deimokrasi Teirpimpin. Bogor: Keikal Preiss.

Basundoro, Purnawan. (2009). Dua Kota Tiga Zaman: Surabaya dan Malang seijak Kolonial Sampai Keimeirdeikaan. Yogyakarta: Peineirbit Ombak.

Bloch, Marc. (1988). Thei Historian's Craft. Mancheisteir: Mancheisteir Univeirsity Preiss.

Boeikei, J.H. (1977). "EIkonomi Dualistis" dalam Seijarah Sosial dan EIkonomi Jilid II. Padang: Jurusan Peindidikan Seijarah FPIPS IKIP Padang.

Burgeir, D.H. (1962). Seijarah EIkonomis Sosiologis Indoneisia. Jakarta: Pradnya Paramita.

Geieirtz, Clifford. (1983). Involusi Peirtanian: Proseis Peirubahan EIkologi di Indoneisia. Teirjeimahan S. Supomo. Jakarta: Bhratara Karya Aksara.

Harsono, Boeidi. (1995). Hukum Agraria Indoneisia: Seijarah Peimbeintukan Undang-Undang Pokok Agraria, Isi dan Peilaksanaannya. Jilid 1: Hukum Tanah Nasional. Jakarta: Djambatan.

Harsono, Boeidi. (2008). Hukum Agraria Indoneisia: Seijarah Peimbeintukan Undang-Undang Pokok Agraria, Isi dan Peilaksanaannya. Jakarta: Djambatan.

Kartodirdjo, Sartono. (1986). Peingantar Seijarah Indoneisia Baru: 1500-1900. Jilid 1. Jakarta: Grameidia.

Kartodirdjo, Sartono. (1990). Peingantar Seijarah Indoneisia Baru: Seijarah Sosial 1500-1900. Jakarta: Grameidia Pustaka Utama.

Kartodirdjo, Sartono., Poeisponeigoro, M.D., & Notosusanto, N. (1975). Seijarah Nasional Indoneisia Jilid V. Jakarta: Deiparteimein Peindidikan dan Keibudayaan.

Leiirissa, R.Z., Ohoreilla, G.A., & Tangkilisan, Y.B. (1996). Seijarah Peireikonomian Indoneisia. Jakarta: Deiparteimein Peindidikan dan Keibudayaan RI.

Luthfi, A. N. (2018). "Meilacak Akar EIpisteimologis UUPA 1960". Jurnal Bhumi.

Multatuli. (1860). Max Haveilaar: Of dei koffiveiilingein deir Neideirlandschei Handeil-Maatschappij. Amsteirdam: J. dei Ruyteir.

Notonagoro. (1984). Politik Hukum dan Tata Hukum di Indoneisia. Jakarta: Bina Aksara.

Parlindungan, A.P. (1994). Komeintar Atas Undang-Undang Pokok Agraria. Jakarta: Mandar Maju.

Peilzeir, Karl J. (1991). Seingkeita Agraria: Peingusaha Peirkeibunan Meilawan Peitani. Jakarta: Sinar Harapan.

Rickleifs, M. C. (1991). Seijarah Indoneisia Modeirn. Yogyakarta: Gadjah Mada Univeirsity Preiss.

Rickleifs, M. C. (2008). Seijarah Indoneisia Modeirn 1200-2008. Jakarta: Seirambi.

Ropkei, Jochein. (1977). "Keimbalinya Keikuasaan Raksasa Kolonial: Cultuursteilseil 1830–1875" dalam Seijarah Sosial dan EIkonomi Jilid II. Padang: Jurusan Peindidikan Seijarah FPIPS IKIP Padang.

Soimin, Sudaryo. (1994). Status Hak Atas Tanah dan Peimbeibasan Tanah. Jakarta: Sinar Grafika.

Suharsono, S. (2004). Seijarah dan Politik Hukum Agraria Indoneisia. Jakarta: Rineika Cipta.

Van Nieil, Robeirt. (2003). Sisteim Tanam Paksa di Jawa. Jakarta: Pustaka LP3EIS Indoneisia.

Vleikkei, Beirnard H.M. (2008). Nusantara: Seijarah Indoneisia. Jakarta: Keipustakaan Populeir Grameidia.

Wiradi, Gunawan. (2009). Seiluk Beiluk Masalah Agraria: Reiforma Agraria dan Masa Deipan Indoneisia. Jakarta: SAINS.

Unduhan

Diterbitkan

2026-05-04

Cara Mengutip

Monding, J. G., Ramaino, A. S., & Pelealu, A. E. (2026). AGRARISCHE WET 1870: Amandemen Menjadi Undang-Undang Pokok Agraria Nomor 5 Tahun 1960. Jurnal Mahkamah Hukum , 3(1), 33-42. https://doi.org/10.64924/8qsgwe28